Sejarah Tongsis dan Perbedaan Tongsis Standar dengan Tongsis Kabel

Tongsis atau tongkat narsis sebenarnya merupakan alat bantu untuk memotret diri sendiri yang pertama kali muncul pada sebuah buku terbitan Jepang pada tahun 1995. Buku tersebut berjudul Useless Japanese Invention yang berarti penemuan yang tidak berguna di Jepang. Rupanya tongsis pada masa itu masih dianggap sebagai barang aneh dan tak lazim bagi orang Jepang. 11 tahun kemudian, pada tahun 2006 Wayne Fromm seorang penemu menciptakan dan mematenkan alat ini dengan nama Quick Pod. Benda ini terinspirasi dari kegiatannya berjalan-jalan ketika ia merasa kesulitan saat memotret dirinya sendiri. Namun, produk ini juga masih kurang diminati pada saat itu. Baru setelah era smartphone berkembang muncullah berbagai produk dan jenis tongsis seperti tongsis standar dan tongsis kabel.


Munculnya era dimana smartphone mulai berkembang begitu juga sosmed kemudian menginspirasi seorang pria Indonesia bernama Anindito Respati Giyardani. Pria berkepala plontos yang juga bekerja di salah satu provider ternama di Indonesia ini menciptakan tongsis sebagai perangkat untuk mempermudah kegiatannya ber-selfie ria bersama teman-temannya. Ia kemudian memodifikasi sebuah monopod dengan sedemikian rupa agar bisa dipasangkan dengan smartphone dan digunakan untuk mengambil gambar selfie dengan tongkat yang panjang.

Tongkat Narsis yang juga merupakan merk yang dipatenkan oleh Anindito kemudian meledak di pasaran dan mendapat pesanan dari berbagai mancanegara. Namun, ia sempat “kecolongan” setelah munculnya banyak merk dan jenis tongkat narsis atau selfie stick di pasaran. Oleh karena itu ia mendaftarkan hak paten untuk produknya hingga ke Amerika Serikat.

Lalu apa bedanya tongsis standar dengan tongsis kabel? Tongsis standar ini mempunyai bentuk yang sederhana dan bisa dilipat hingga sepanjang 15-20 cm saja. Ketika ditarik, panjang tongsis ini mencapai 100 cm. Terdiri dari 2 komponen, yakni pengait (holder) yang berfungsi menjepit atau menahan smartphone dan tongkat yang ukurannya bisa disesuaikan hingga batas maksimal dan minimalnya. Tongkat dan holder tongsis bisa dibeli secara terpisah sehingga ketika salah satu komponen rusak maka tak perlu mengganti keduanya. Cara kerja tongsis standar adalah dengan meletakkan smartphone menghadap depan atau belakang (holder juga dapat diputar ke belakang) lalu panjangkan tongkat sesuai keinginan dan pasang timer pada kamera smartphone. Kamera akan mengambil foto sesuai dengan jangkauannya.

Nah, untuk tongsis dengan kabel, lebih canggih dan lebih simpel lagi. Tongsis dengan kabel ini juga bisa disebut tomsis, karena terdapat sebuah tombol yang berfungsi sebagai shutter kamera. Alat ini bekerja lewat koneksi kabel atau bluetooth. Harganya lebih mahal daripada tongsis standar namun sangat praktis digunakan karena tidak perlu lagi memasang timer pada kamera. Berikut ini cara memilih tongsis yang baik:

  • Pilihlah tongsis dengan panjang standar, yakni sekitar 100 cm. Karena untuk yang lebih dari itu, akan mempersulit Anda untuk melakukan foto selfie dan bisa menyebabkan handphone terjatuh.
  • Pilihlah tongsis dengan holder yang kuat dan tidak licin. Karena ini yang paling penting. Holder yang bagus memiliki sebuah bantalan busa dan bisa meminimalisir goresan pada bodi handphone Anda. Pilih dengan holder yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil dan memiliki kuncian holder yang cukup kuat dan bisa diatur dengan mudah.
  • Untuk handphone-handphone jenis tertentu terkadang tidak kompatibel dengan tongsis kabel sehingga tongsis standar lebih direkomendasikan untuk Anda karena lebih kompatibel dengan semua jenis handphone, selain itu harga tongsis standar juga jauh lebih terjangkau.

Click to comment